Oleh : Zulham (zul_c05@yahoo.co.id)
hujan malam ini mengguyur palopo.lumayan deras.cukup mampu merendam daerah salutellue.guntur dan kilat ikut ambil bagian pula.memang suatu parade yang alamiah.oleh para cendekia,rahasianya telah diterka dengan benar.hujan,guntur,kilat dan malam adalah aktor.mereka kadang menjadi antagonis,kadang pula protagonis.tergantung empunya menurutku.kota ini pula miliknya.aku sadar malam ini.begitu mudah beliau berkehendak.ingatku,cukup dengan kun fayakun!
memang sejatinya begitu.terkadang kita harus berada pada titik transendensi.keinsyafan perlu.bahkan wajib.terlebih lagi untuk mempertahankannya.bukan dengan kebohongan tentunya.saya teringat dengan ahmad musadeq kalau membahas kebohongan.sekarang statusnya adalah mantan nabi. yang insyaf tentunya.sangat lucu karena nabi berinsyaf.he..
saya geli,karena ada nabi yg berinsyaf.kalau preman insyaf sih bukan suatu yang aneh.palopo aman karena preman-premannya sudah insyaf.makanya jangan heran,banyak uztaz yang bertato di kota ini.tapi kita sepatutnya berterimakasih.dari mereka kita dapat belajar.ada banyak hikmah disitu.
hujan masih turun.rumahku sudah sepi.penghuninya sudah berada di kamar masing-masing.biasanya jam segini ruang tengah pasti ramai.saya maklum,tadi bozter tv kabel kami meledak kena petir. dua tahun lalu balubu masjid jami pecah kena petir.akan ada bencana katanya.demikian para mistikus palopo menginterpretasikannya.bukan analisis yang serampangan ternyata.sarita pawiloy menulis palopo (luwu) sebagai posi’ tana.dan masjid jami diyakini sebagai pusat kosmos palopo (luwu umumnya).cukup bangga saya mendengar cerita itu.paling tidak menambah sense of belonging-ku pada kota ini.apalagi trans tv juga telah mempublish-nya.jadi tampaknya palopo bakal mulai dikenal nih! hehe…
tidak mudah menumbuhkan rasa memiliki suatu kota.kadang kita malu menyebut palopo, jika di kota orang kita ditanya: anak mana?di makasar saja,kita malu nyebut identitas ke-palopo-an kita.kadang saya pikir mereka (kaum yang tidak pede dengan paloponya) ngeles,mungkin juga karena mereka takut.banyak anak bone di sana.kita tau lah semua,gimana palopo dan bone di makasar.tapi saya gak mau ngebahas itu.
memang ada banyak makna yang hilang dari ke-palopo-an kita.dulu, landau meminumkan air putih yang telah di bacakan yasin kepada pasukannya sebelum berperang.abg palopo,kini,menggilir ballo sebelum nyari masalah.maka timbullah pencitraan ‘daerah texas’ di beberapa kawasan di palopo.tapi saya bersyukur,gak ada lagi daerah texas tadi yang sangat ekstrim.kembali lagi tadi,premannya dah insyaf.saya juga teringat cerita seorang teman.dia calon dokter.ketika ditanya pengen praktek dimana pasca lulus,jawabnya di ibukota.gedubrak! saya kok waktu itu langsung sinis.palopo butuh dokter jek!mana tanggung jawab anda untuk kota lahir anda?kamu masih makan kapurung kan?ingin rasanya saya bertanya demikian.paling tidak,dengan jawaban ‘ya’, saya dapat lebih tenang.harusnya untuk palopo, dia punya personal social responsibility-itu isti
lahku,kalau bisa meminjam ubah istilah CSR,hehehe…
hujan masih turu
n.sudah agak lama perasaanku.tampaknya besok harus kerja keras lagi.memang,minggu-minggu ini waktunya rajin-rajin berbenah.adipura kencana meyongsong jek.ya sudahlah, malam ini cuma mau numbuhin ’sense of belonging’ terhadap palopo.
wekz…. hujan yah,,, sama dong semua daerah, surabaya juga.
anginnya kencang banget….
Oleh: aRuL on Februari 14, 2008
at 11:54 am
sebagai wija to Luwu aku bangga mampir di blog ini
Oleh: baso on April 3, 2008
at 9:45 am
@ baso : terima kasih, mungkin mau join?
Oleh: aRuL on April 3, 2008
at 4:41 pm